Pulang malam

Pernah berdoa? Pernah dong yah, pernah berdoa “ya Tuhan berikan saya pekerjaan yang baik” itu isi doa saya kepada Tuhan.

Memang sih doa itu saya ucapkan bukan baru-baru ini, doa itu saya panjatkan selagi menganggur, ya iya lah mungkin pada saat mengangur kita mengidam-idamkan dan menghargai sebuah pekerjaan, dan gak tanggung-tanggung biasanya doanya anak pengangguran itu panjang dan komplit, berbeda dengan saya yang cuma “berikan saya pekerjaan yang baik”
Tuhan memang tidak bisa diatur kapan mau mengabulkan doa kita, bisa segera, atau bisa ketika kita mulai melupakan bahkan ketika kita baru saja diberikan promosi jabatan. 
Berkaitan dengan saya, sudah dua bulan belakangan saya datang ke kantor lebih pagi, yang biasanya istri ikut bareng mengharuskan saya berangkat lebih awal dari biasanya dan yang biasanya jemput istri ketika pulang kerja, lagi-lagi istri harus pulang duluan naik gojek, karena saya selalu pulang malam. 
Bahkan, tim saya sendiri dibanding saya datangnya lebih pagi saya, jelas-jelas saya  atasan mereka, ha ha ha.
Jangan sedih, dan gak perlu memikirkan saya, karena Tuhan sedang mengabulkan doa saya, doa yang pernah saya panjatkan ketika masih menganggur dulu. Memang seperti yang saya tuliskan didepan, ketika doa kita dikabulkan kembali setelah kita memiliki pekerjaan yang baik apa yang kamu lakukan?
Kalau saya sih gampang, ketika saya menemukan pekerjaan yang baik dan pekerjaan makin banyak, berarti karir saya belon berhenti dan masih bisa dipacu dengan maksimal. 
Coba bayangkan, selain harus memikirkan tim internal di kompas.com saya juga harus memikirkan tim social media kompas gramedia, terlebih agenda pilkada dki ini begitu menguras pikiran, emosi dan tentu fisik.
Tetapi alhamdulilah saya masih bisa tertawa dan memiliki wajah ceria walaupun harus pulang tengah malam dan pagi harus bangun dan mengantar anak sekolah sebelum berangkat bekerja.
Intinya ketika doa saya dikabulkan yaitu diberikan pekerjaan yang baik, maka saya tidak berani apalagi menolak pekerjaan, karena pekerjaan itu adalah doa yang pernah saya panjatkan saat masih jadi pengangguran
Jadi, intinya ketika kita berdoa,jangan sembarangan berdoa,  harus siap, apalagi yang suka berdoa dengan panjang dan komplit, gak kebayang aja sih kalau semua dikabulkan pada saat yang bersamaan, ha ha ha.

Bromo 2017


“Outing ini harus jalan, apapun yang terjadi harus jalan” kira-kira pesan itu yang saya tanamkan di meeting regular social media yang biasa digelar selasa pagi pada bulan oktober 2016.
Ini memang hajatan besar pertama social media setelah piknik ke daerah bogor sukses pada tahun 2015, namun untuk kali ini tidak tanggung-tanggung, tujuan utama adalah Batu – Malang adalah pilihannnya. Tentu dengan Tour Bromo menjadi klimaks perjalanan ini.
Tanpa ekspektasi yang berlebih, outing ini memang saya rancang untuk lebih mendekatkan diri ke sesama personil tim social media kompas.com, memang sih sudah pada dekat, namun bagi saya yang dibesarkan oleh kelompok pencinta alam, pertemanan diuji ketika kita berada di alam, apakah itu egosentris, atau tipikal berbagi.
Tetapi saya ternyata salah, dimulai waktu perjalanan dikereta yang memakan waktu 14,5 jam dari stasiun pasar senen hingga malang kota baru saya masih berpikir bahwa yang saya lakukan ini hanyalah untuk kepentingan tim, namun semua itu berubah ketika pada sabtu dinihari di 28 Januari 2017, kami dijemput menggunakan jeep untuk Bromo Tour yang memakan waktu sampai dengan 2,5 jam untuk menuju bromo sunrise view.
Pagi itu dingin sekali, sepanjang mata memandang diselimuti kabut, hingga pukul 6 pagi, kami tidak melihat sunrise di ujung bromo, dan saat itu juga saya merasakan sebuah kerinduan atas keindahan alam pegunungan yang selama ini terlupakan.
Terpaan angin dingin yang membuat kulit menggigil, udara yang mengandung air, hingga kesejukan alam yang segar seakan menyadarkan saya kembali bahwa “selama ini saya melupakan keindahan alam pegunungan”
Akhirnya saya menyadari bahwa, outing ini merupakan refreshing bagi saya yang tidak direncanakan atau bisa saya katakan kejutan istimewa diawal tahun 2017 yang seolah-olah mereset semua kenangan dan kerinduan saya terhadap alam pegunungan.
Terima kasih Bromo 

Akhirnya Offline


Bekerja di industri digital, apalagi mengelola tim social media untuk sebuah kantor berita sebesar Kompas Gramedia terkadang membuat saya terpaksa harus membuka social media dan social messaging secara rutin setiap hari pada jam-jam tertentu.
Ha ha ha, memang sih eksistensi saya selama ini di social media mungkin kalau bisa dikatakan 70% adalah karena pekerjaan, dan 30% lainya adalah hiburan, dan 30% itu pun biasanya saya gunakan buat menonton 20% dan untuk membaca berita kisaran 10%.
Lalu selama ini updates social media terpaksa?
Gak juga, kadang sesuatu yang saya updates di social media bisa jadi dukungan atas seseorang, selebrasi, atau sekedar mendokumentasikan moment berharga.
Boleh dilihat, bisa dikatakan semua updates saya tidak ada yang berisi keluhan, nyinyir, ya paling ada sindiran halus, karena setelah memulai berkarier di industri digital pada tahun 2008 hingga kini, saya mendapati sebuah kebosanan atas social media diakhir tahun 2015.
Ya memang saya masih updates status, tetapi itu tidak lebih untuk mencoba fitur, inovasi baru atau seperti yang saya ungkapkan diatas. 
Februari 2017, perlahan semua kewajiban saya untuk membuka social media mulai di delegasikan bersamaan saya mengangkat subordinate khusus social media.
Namun masih ada PR lain, mengingat ekspansi messaging bertranformasi menjadi social messaging dimana selain alat komunikasi juga sebagai social media, jadi “akhirnya offline” saya tidak sepenuhnya terlaksana, karena sebelum tidur dan bangun tidur tetep check hape untuk liat pesan baru, karena suka tidak suka, mau tidak mau, pesan baru adalah pekerjaan.
Ya saya memang hanya menjadikan Whatapps, LINE, dan BBM untuk komunikasi pekerjaan, dan jangan heran jika di group selain pekerjaan saya mute alias silent reader.
Salam offline 

Trans(in)formasi (2 more years)

Awal tahun 2017 ini saya memang sengaja meluangkan waktu untuk merenung dan mencoba untuk mereview karir saat ini di industri media (kompas.com) padahal masa kerja saja tergolong baru, yaitu mengijak usia 42 bulan.
Setelah hampir satu tahun terakhir belakangan ini disibukan kerjasama dengan konten aggregator dan social media aggregator, akhirnya diri ini disudutkan untuk menganalisa keadaan yang sedang dihadapi media saat ini, khususnya portal berita.
Kompas Gramedia memilik core dan kemampuan membuat konten yang handal dan terpercaya, sedangkan para aggregator ini memiliki kemampuan dalam inovasi teknologi. 
Sedangkan pengguna digital/internet saat ini dengan proporsi terbesar yaitu generasi milenials mereka cenderung abai dan malas untuk mengakses informasi, gampangnya orang tua mereka sukarela beli koran untuk baca berita, sedangkan mereka jangankan beli, baca berita saya tidak mau.
Kasus ini menurut saya tidak sepenuhnya kesalahan generasi milenials, karena ada faktor teknologi yang berperan serta mengubah kebiasaan mereka dalam berinteraksi, ketika social media booming di Indonesia mereka asik berselancar dan mengeksplorasi sepuasnya, dan disaat social media dirasa terlalu berisik dan bising bagi mereka, dengan mudahnya mereka berpaling ke social messaging yang katanya lebih personal, interaktif, dan selektif.
Namun apa yang dilakukan dengan para pembuat konten seperti Kompas Gramedia? 
Mereka masih tetap membuat konten, makin bagus dan semakin cepat dalam penyajiannya, namun mereka lupa bahwa pembaca itu harus diregenerasi, yang tadinya mencari informasi dan rela membayar demi sebuah berita, kini media dihadapkan dengan generasi yang sedikit abai terhadap informasi khususnya berita, karena informasi semacam ini tidak berada dimana mereka asik dalam berinteraksi seperti social media dan messaging. 
Facebook, Line dan Aggregator yang pada akhirnya menangkap ini menjadi lahan bisnis baru yang harus dipoles dan menjadi rasa baru bagi penggunanya, selain bisa berinterakasi dengan sesama teman, mereka disajikan berbagai informasi tanpa harus meninggalkan atau berganti channel.
Menurut saya media selama ini hanya berusaha meregenerasi usia pembaca mereka tetapi lupa bahwa mereka juga harus meregenerasi teknologi dan kebiasaan mereka berinteraksi dan berkomunikasi.
Jadi apakah media hanya bisa menjadi pabrik konten yang perlahan dilupakan namanya karena kalah bersaing denga para aggregator? 
Atau media harus beralih dan mulai memikirkan inovasi berbasis teknologi untuk merebut kejayaan media?
Menurut saya, media akan susah bersaing jika ingin terjun dan berinovasi dalam teknologi karena itu bukan DNA mereka, daripada membuang waktu bersaing secara teknologi yang tidak menguntungkan, lebih baik media saat ini mulai memikirkan informasi seperti apa yang akan diberikan, karena bagi saya yang tetap sama dan tidak akan berubah baik itu teknologi, pengguna, dan platform adalah informasi itu sendiri, karena sampai kapan pun semua kita semua butuh informasi yang menurut kita baik dan bermanfaat.
Solusi terdekat adalah; mulai mengembangkan teknologi merekam reader journey sehingga media mampu memberikan ke setiap pembaca informasi yang sesuai dengan preferensi atau minat sesuai reader journey yang telah direkam tanpa harus menghilangkan informasi terkini, mungkin teknologi ini sudah ada yang menggunakan di dunia marketing, namun jika ini digunakan dalam industri digital news saya yakin media itu akan menjadi pemenangnya.
Namun jika tidak ada terobosan baru dalam media itu sendiri, khususnya digital news (kompas.com), maka 2 tahun kedepan adalah waktu paling lama untuk tetap bertahan dalam industri ini.
– Nuansa kebagusan 

Abai

Abai itu terjadi karena; bukan prioritas, memilih status quo, kebiasaan mengingat, dan demotivasi. Itu adalah status saya disalah satu social messaging LINE kurang lebih minggu lalu, entah mungkin ini cara protes atas semua yang saya lihat dimana, orang mulai abai dengan apa yang seharusnya “it your thing”.
Tenang sikap abai ini pasti akan banyak juga yang akan mendebatnya, gue bukan abai tetapi memilih tidak peduli, nah jika sesuatu yang seharusnya “it your thing” dan memilih tidak peduli, bukan itu namanya bunuh diri?.
Bingung ya, begini deh contohnya, loe memiliki kerjaan, dan sudah 1 tahun melakukan kerjaan itu, selama kurun waktu 1 tahun itu, “it your thing” kan dan ketika ada orang yang meminta pendapat mengenai sesuai yang bersinggungan dengan pekerjaan dan gak punya jawaban atau terlihat bingung karena terbiasa hanya melakukan daily work, dateng tepat waktu, pulang tepat waktu, dan hanya bekerja by daily basis maka itu gue sebut abai.
So mungkin gue kesel sama orang yang abai, karena abai itu yang menentukan karir, nasib, dan masa datang.

3 tahun, 6 purnama


1 januari 2017 adalah tahun baru (he he he) namun ada peristiwa special buat saya, karena hari itu juga bertepatan dengan 3 tahun, 6 bulan saya bekerja di Kompas Gramedia Group. Memang sih masih terbilang singkat dibanding dengan teman-teman lainnya dan terbilang masih anak baru atau masih bau kencur di KG.
3 tahun 6 bulan yang lalu, ketika saya memutuskan untuk berpindah haluan dari agency digital Bounche Indonesia dan migrasi ke KG banyak pertanyaan muncul, baik dari diri sendiri maupun orang terdekat hingga orang yang menginterview saya di KG.
“Gak sayang, kan di Bounche udah jadi Head?”
Seperti itulah pertanyaan yang muncul, namun saya beruntung, karena memiliki nama lahir TEGUH, mungkin ini yang menyebabkan semua kerisauan, cemas menjadi merasa tertantang untuk mencoba karir baru di industri media, apalagi koorporasi sebesar KG yang seantero jagad sudah mengenalnya.
Memang saya akui bekerja di start up seperti Agancy Bounche semua serba cepat karena birokrasi yang pendek dan tau sendirilah pace agency kalau dianalogikan dalam lari mungkin pace 5 udah paling lambat. Berbeda halnya ketika awal masuk di KG, saya seolah berada di dunia yang woles dan sering mendengar kata “iya nanti”. Bayangkan loe biasa lari dan sekarang diminta berjalan bahkan terkadang istirahat.
Namun untungnya itu tidak berjalan lama, saya menyadari bahwa pace bekerja harus diciptakan dan usahakan setiap hari, perlahan saya membangun iklim dan budaya kerja yang cepat, dan tentu dibantu dengan teman dan merekrut tim baru yang memang memiliki motivasi berlari secepat-cepatnya sehingga akhirnya pada awal 2016 tim saya akhirnya berdiri sendiri sebagai Departemen Distribution Partnership
Setelah hampir 2 tahun lebih selalu di pindah-pindah atau dititipkan ke departemen lain mulai dari markom hingga bisnis sekarang bisa bernafas lega karena memilik full tanggung jawab dan mudah-mudahan mampu memberikan terbaik kepada perusahaan sehingga 1 Januari 2017 saya mampu memenuhi janji kepada diri saya.
Saya masih ingat di tahun 2013 ketika saat interview salah satu pertanyaan dari GM HR Kompas.com adalah “loe gak sayang, kan udah jadi head, disini mulai dari awal lagi loh rub” dan saya pun menjawab dengan percaya diri “nanti juga saya akan jadi Manager kok mbak”.
Ahamdulilah, 1 Januari 2017 saya dipercaya untuk mengelola tim yang selama ini berjuang bersama dan berlari untuk kepuasan berkarya sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap perusahaan.
Terimakasih; dull, dan teman di distribution partnership 
“we make itu happen”
Pondok indah – 7 Januari 2017

Uber Driver Destination is ON for Partners Jakarta


Setelah awal Juni diperkenalkan, akhirnya pada hari ini  14 Juli 2016 Driver Destination untuk Uber Partners Jakarta sudah mulai bisa digunakan. Ini merupakan fitur yang saya tunggu-tunggu sebagai Uber Partners, selain bisa memangkas waktu ketika mengemudi, fitur ini juga mampu melokalisir tujuan penumpang yang akan kita antar.
Memang sebagai Uber Partners kita tidak akan pernah menghetaui kemana tujuan calon penumpang ketika kita menerima order, dan  dengan begitu Driver tidak bisa memilih order sehingga calon penumpang dengan cepat mendapatkan Uber mobil untuk mengantarnya.
Uber Destinations adalah “fitur baru di Uber Partners dimana pengemudi bisa menentukan tujuan original dan Uber akan melakukan filterisasi sehingga hanya akan mendapatkan order perjalanan yang satu arah tujuan dengan pengemudi.” 
Tentu fitur ini hanya Uber Partners yang bisa menggunakan dan calon penumpang tidak akan menghetaui apapun tentang fitur ini sehingga penumpang tidak di ribetkan.
Kenapa fitur ini yang saya tunggu-tunggu, karena ini memungkinkan saya ketika berangkat bekerja bisa mengambil order yang satu tujuan dengan kantor dan berlaku sebaliknya ketika saya melakukan perjalanan pulang sehingga tidak menghabiskan waktu untuk melakukan trip yang tak tentu arah.
Tidak itu saja, ketika weekend yang mana biasanya saya nguber, ketika perjalanan pulang dapat mengambil order yang searah rumah sehingga ini sangat membantu memaksimalkan penggunaan kendaraan dan bahan bakar.

Tetapi tidak semua Uber Partners diuntungkan dengan fitur ini, sebagai contoh ketika menggunakan fitur ini kita sebagai pengemudi tidak mendapatkan insentif jika ada program yang sedang dilakukan oleh Uber.
Memang fitur ini diperuntukan bagi driver yang menginginkan tambahan tanpa menggangu waktu pekerjaan utamanya, sehingga untuk driver destinations ini kita hanya memiliki 2 tujuan setiap harinya, misalnya kantor dan rumah.
Kamu tertarik ikutan Nguber jangan lupa gunakan code “rubbiwue” atau klik di https://partners.uber.com/i/rubbiwue ini untuk mendapatkan 250rb setelah menyelesaikan 15 trip

Idul Fitri, Lebarannya Uber Driver

Minal aidzin wal faizin, lebaran tahun ini memang benar-benar beda, ini adalah kali pertama saya merasakan sebagai Uber Driver merasa diuntungan dengan adanya metode Surge Price yang terjadi pada lebaran kali ini, dan ini juga yang menjadi pembeda Uber dengan sharing ride aplikasi lain seperti Go-car dan Grabcar, memang sih pada lebaran ini saya hanya fokus menjadi Uber Driver saja, karena ketika melihat peta Jakarta menjadi merah menyala di aplikasi Uber Partners adalah tanda bahwa ini adalah saatnya turun kejalan.

Surge price memang seperti malaikat bagi kami pengemudi Uber, terlebih jika surgenya menjadi 3x lipat, memang sih ini menjadi momok menakutkan bagi penumpang Uber, tetapi sekali lagi inilah alasan utama saya bergabung Uber Partners.
Bayangkan perjalanan yang seharusnya hanya 50rb saja bisa menjadi 150rb dan sekali lagi ini bukan karena macet berat atau hujan lebat yang melanda Jakarta, tetapi karena demand yang sangat tinggi dan pengemudi sangat sedikit sehingga surge price menjadi melambung tinggi

Contoh diatas adalah perjalanan saya yang terjadi di hari pertama lebaran 2016 pada tanggal 6 Juli di jam 9 malam, hanya membutuhkan 30 menit perjalanan, namun dengan adanya surge price yang menggila menjadikan tarif surge hampir 2 kali lipat dan melebihi tarif dasarnya itu sendiri, indah bukan
Kamu tertarik ikutan Nguber jangan lupa gunakan code “rubbiwue” atau klik di https://partners.uber.com/i/rubbiwue ini untuk mendapatkan 250rb setelah menyelesaikan 15 trip

Nguber Perdana


Memulai dengan rasa penasaran tinggi, akhirnya tekad ini bulat untuk mencoba peruntungan menjadi Uber Driver, memang sih saya tidak pernah sama sekali menggunakan jasa Uber Rider sekalipun sehingga tidak pernah memperhatikan seperti apa service yang diberikan ketika nanti menjadi driver Uber, namun itu merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi saya.
Hal pertama yang musti dilakukan adalah download Uber Partners Apps di smartphone kamu, lalu akan muncul isian form untuk kamu mengupload beberapa dokumen guna persyaratan untuk menjadi Driver Uber. Pertama yang harus dilakukan adalah datanglah ke kelurahan dan Polsek terdekat untuk membuat SKCK, karena dokumen ini yang sangat penting, terlebih membutuhkan waktu tersendiri untuk mengurusnya.
Adapun persyaratannya adalah;

  1. KTP
  2. SIM
  3. NPWP
  4. STNK
  5. Kontrak Asuransi
  6. SKCK

Menjadi Driver Uber tergolong mudah dalam segi administrasi jika dibanding Go-Car ataupun GrabCar (akan saya bahas di lain waktu) karena semua dokumen diatas cukup di foto dan upload melalui aplikasi Uber Partners dan sama sekali tidak ada proses tatap muka antara Uber BV dengan Uber Driver.
Namun Uber juga menyediakan traning pengenalan aplikasi dan rules, namun itu tidak harus datang, karena bagi kita yang memiliki kesibukan dapat melihatnya dan mempelajarinya melalui video yang pihak Uber upload ke youtube.
Singkat cerita akhirnya permohonan saya di approve oleh Uber dan siap untuk mengambil trip perdana, saya cukup beruntung karena mendapatkan perjalanan pertama saya ternyata memiliki tujuan searah dengan rumah saya yaitu Jagakarsa yang mana hanya berjarak 2 km dari rumah saya.
Masih ingat betul, sepulang dari kantor saya di palmerah menuju arah pulang, tepatnya ketika berada di jalan hangtuah aplikasi Uber Partners saya nyalakan, tidak butuh waktu lama masuk sebuah push notifikasi bahwa ada request penjemputan di depan kantor telkom di jalan Singsingamaharaja.
Perlu diketahui sebuah order trip hanya memberikan kita Uber Driver 15 detik untuk mengambil order tersebut atau kita lewatkan, dan perlu diketahui juga bahwa Uber juga memperhitungkan accepted rate yang Uber Driver terima selama dia online, katanya sih salah satu cara Uber memberikan order yang tepat kepada driver yang terdekat dengan lokasi penjemputan.

Akhir kata perjalanan perdana saya sukses dan mendapatkan rating bintang 5, kamu tertarik ikutan Nguber jangan lupa gunakan code “rubbiwue” atau klik di https://partners.uber.com/i/rubbiwue ini untuk mendapatkan 250rb setelah menyelesaikan 15 trip

Teman Danika (Mengenal Sistem Ventrikel)

Tulisan ini merupakan seri pengalaman kami (saya, istri dan danika) bersama Sabia dalam menghadapi diagnosa, cobaan dan bagaimana kami menghadapinya. Karena setelah Googling kami tidak menemukan kasus yang serupa dengan yang Sabia alami, sehingga akhirnya kami memutuskan untuk menuliskannya.

Inilah kisah kami menghadapi ventriculomegaly yang menghinggapi sabia sejak dikehamilan 4 bulan sampai dengan saat ini. Mudah-mudahan bermanfaat.

Semenjak memutuskan untuk menikah, saya memang menginginkan memiliki 1 anak saja, dengan pertimbangan biaya hidup yang tinggi dan yang terpenting adalah mahalnya biaya pendidikan, maklum saya memang mematok standar yang tinggi untuk urusan pendidikan anak, yaitu bercita-cita harus bisa mengkuliahkan anak di luar

Singkat cerita, 14 April 2011, anak pertama kami lahir secara section pada pukul 17.07 di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kemang Medical Care yang kami bernama “Danika Jasmine Nadjachandani Widiantoro”

2014, dimana Danika telah berumur 3 tahun lebih, Saya akhirnya mulai memikirkan merevisi untuk memiliki anak 1 saja, melihat Danika selalu bermain sendiri, Saya merasa ada sesuatu yang mengganjal ketika Danika bermain, memang sih senang bahkan gembira, namun Saya melihat ada yang kurang, seperti ketika bermain Danika kurang plong karena tidak adanya teman bermain.

Akhirnya kami memutuskan untuk memiliki anak ke-2, dan kami berdua akhirnya bertemu dengan dr Sherly dan mengutarakan niat kami untuk memiliki momongan kembali, dan dr Sherly pun merekomendasikan istri untuk melakukan pemeriksaan TORCH, dan setelah hasil test TORCH keluar dan tidak ditemukan virus yang berbahaya.

Alhamdulilah tidak seperti kehamilan Danika yang menunggu 1 tahun, kali ini untuk kehamilan anak ke-2, Alhamdulilah kami tidak perlu menunggu lama

Tidak hanya kami (saya dan istri) yang senang, Danika juga terlihat sangat senang, karena dia yakin bahwa adiknya perempuan dan akan diajarkan berenang katanya dengan polos. Kehamilan kedua ini memang si Dull (saya memanggil istri) tidak semabok anak pertama, jarang merasa lelah atau kaki bengkak.

Pada usia kandungan di Dull memasukan minggu ke-20 kami disarankan oleh dr. Shierly untuk melakukan USG 4D, seperti pada kehamilan anak pertama, kami akhirnya merujuk pada dokter yang sama yaitu dr Azen Salim spog, kali ini kami tidak menemuinya di RSPI tetapi kami mendatangi tempat prakteknya di BSD.

Setelah melakukan reservasi, akhirnya kami mendapatkan giliran untuk diperiksa . . . .


Betapa kagetnya kami ketika menghetau bahwa kepala adik bayi terdapat cairan berlebih di otak yang dikenal dengan ventrikulomegali. Untuk kasus anak saya adalah terdapat pelebaran ventrikel lateralis 10.8 mm (kiri) dan kanan 10.8 mm (kanan). sistem organ lainnya tidak ditemukan penyimpangan.

Bersambung . . . . Menghadapi Ventriculomegaly