2nd Party Data
Adalah 1st Party Data tapi milik orang lain, seperti dari publisher, platform sosial media, perusahaan eCommerce, Online Travel Agent (OTA) atau brand. Metode untuk mengumpulkannya pun sama, dari CRM, website, survey dan pelanggan newsletter.
2nd Party Data dibutuhkan untuk skalabilitas karena 1st Party Data jumlahnya relatif sedikit dibandingkan dengan potensi pasar yang ada dan perlu waktu lama untuk memperluas jangkauan
Untuk menggunakan 2nd Party Data ini, brand harus berhubungan langsung dengan para pemiliknya. Jadi harus punya akses seperti melalui Google Adwords, Facebook Ads Manager atau akses ke Private Exchange untuk programmatic.
Kualitas informasi dalam 2nd Party Data bisa dibilang setara dengan 1st Party Data karena pemiliknya juga memperolehnya langsung dari audience mereka sendiri.
Kelebihan dari 1st Party Data adalah 2nd Party Data bisa memperluas jangkauan pemasaran, terutama ke segmen-segmen audience yang profilnya di luar audience data.
3rd Party Data
Data yang kita dapatkan dari penyedia data, disebut juga data aggregator. Mereka mengumpulkan 1st Party Data milik orang lain dan para aggregator ini lalu mengumpulkan data-data ini menjadi satu sebagai 3rd Party Data.
Data yang dikumpulkan dikelompokkan ke dalam berbagai kategori (seperti industri, audience behavior, interest, dan demografi) -> Setiap kategori dibagi lagi menjadi beberapa segmen -> segmen-segmen ini yang dijual.
Tantangannya, penamaan segmen data audience ini berbeda-beda untuk setiap provider.
Manfaat utama 3rd Party Data adalah hanya bisa didapatkan secara programmatic (kalau 2nd Party Data itu tidak otomatis atau tidak pakai perantara). Prosesnya berlangsung cepat dan dalam skala yang besar.
3rd Party Data ini umumnya diposisikan untuk memperkuat atau memperluas jangkuaan 1st Party Data.
Merancang strategi data dimulai dengan membangun 1st Party Data dari CRM, website dan mobile app. Langkah berikutnya adalah membuat Lookalike Audience dari 1st Party Data tadi (lewat 2nd Party Data dan 3rd Party Data juga).
Langkah tepat setelah menyiapkan 1st Party Data (seperti daftar email pelanggan atau pixel events) adalah membuat Lookalike Audience (LAL) di Meta Ads Manager untuk menjangkau orang baru yang memiliki karakteristik serupa dengan pelanggan terbaik Anda.
Berikut adalah panduan langkah demi langkah untuk membuat Lookalike Audience dari 1st Party Data Anda:
- Masuk ke Audiences di Meta Ads Manager
- Buka Meta Ads Manager.
- Klik menu tiga garis (All Tools) dan pilih Audiences.
- Buat Lookalike Audience
- Klik tombol Create Audience.
- Pilih opsi Lookalike Audience.
- Pilih Sumber (Seed Audience)
- Pilih 1st party data yang sudah Anda siapkan sebelumnya (Custom Audience).
- Sumber yang direkomendasikan: Customer List (daftar pelanggan), pengunjung situs web (Pixel), atau orang yang berinteraksi di aplikasi/Page.
Catatan: Pastikan sumber data memiliki setidaknya 100 orang dari satu negara agar akurat.
- Pilih Lokasi (Negara)
- Pilih lokasi geografis tempat Anda ingin menemukan orang-orang serupa (contoh: “Indonesia”).
- Tentukan Ukuran Audiens (Percentage)
- Gunakan slider untuk memilih persentase populasi (dari 1% hingga 10%).
- 1% Lookalike: Paling mirip dengan 1st party data Anda, tetapi jangkauannya lebih kecil.
- 10% Lookalike: Kurang mirip, tetapi jangkauannya lebih luas.
Tips: Mulailah dengan 1% atau 1-2% untuk akurasi tertinggi.
- Klik “Create Audience”
- Selesai. Meta akan memerlukan waktu hingga 24 jam untuk membuat audiens ini. Audiens akan diperbarui secara otomatis setiap 3-7 hari.
Tips Penting untuk Lookalike Audience
- Gunakan Data Berkualitas: Gunakan daftar 1st party data yang paling berharga, misalnya “Pembeli dalam 30 hari terakhir” daripada sekadar “Pengunjung website”.
- Value-Based Lookalike: Jika data 1st party Anda mencakup nilai transaksi (LTV/Lifetime Value), unggah data tersebut agar Meta mencari orang yang serupa tidak hanya perilakunya, tetapi juga potensi nilai belanjanya.
- Update Berkala: Jika data Anda tidak tersinkronisasi otomatis (misal: upload manual via CSV), lakukan update daftar 1st party secara berkala agar lookalike tetap relevan.
Tulisan ini merupakan bagian dari Digital Advertising Course berdasarkan pengalaman dan rekomendasi oleh Rubbi Widiantoro yang menjadi basic principle dalam digital ad atau programmatic buying serta bisa menjadi pembelajaran untuk melakukan pembelian iklan digital melalui programmatic